Pengertian dan Sejarah Penyiaran Indonesia

Pengertian Penyiaran
Penyiaran atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai broadcasting,
adalah keseluruhan proses penyampaian siaran yang dimulai dari penyiapan materi
produksi, produksi, penyiapan bahan siaran, kemudian pemancaran sampai kepada
penerimaan siaran tersebut oleh pendengar/pemirsa di satu tempat. Dari definisi
umum ini tampak bahwa, arti penyiaran berbeda dengan pemancaran. Pemancaran
sendiri berarti proses transmisi siaran, baik melalui media udara maupun media
kabel koaksial atau saluran fisik yang lain.
Sejarah Penyiaran Indonesia
Tahun 1925, pada masa pemerintahan Hindia Belanda Prof. Komans dan
Dr. De Groot berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan stasiun
radio di Malabar, Jawa Barat. Kejadian ini kemudian diikuti dengan berdirinya
Batavia Radio Vereniging dan Nirom.
Tahun 1930 amatir radio di Indonesia telah membentuk organisasi
yang menamakan dirinya NIVERA (Nederland Indische Vereniging Radio Amateur)
yang merupakan organisasi amatir radio pertama di Indonesia. Berdirinya
organisasi ini disahkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Masa penjajahan Jepang tidak banyak catatan kegiatan amatir radio
yang dapat dihimpun. Kegiatan radio dilarang oleh pemerintahan jajahan Jepang
namun banyak di antaranya yang melakukan kegiatannya dibawah tanah secara
sembunyi-sembunyi dalam upaya mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tahun 1945 tercatat seorang amatir radio bernama Gunawan berhasil
menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan indonesia dengan menggunakan perangkat
pemancar radio sederhana buatan sendir. Tindakan itu sangat dihargai oleh
Pemerintah Indonesia. Radio milik gunawan menjadi benda yang tidak ternilai
harganya bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Imdonesia dan sekarang disimpan di
Museum Nasional Indonesia.
Akhir tahun 1945 sudah ada organisaasi yang menamakan dirinya PRAI
(Persatoean Radio Amatir Indonesia). Dan pada periode tahun 1945 banyak para
amatir radio muda yang membuat sendiri perangkat radiotransceiver yang
dipakai untuk berkomunikasi antar Pulau Jawa dan Sumatera tempat pemerintah
semantar RI berada.
Antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1950 amatir radio juga banyak
berperan sebagai radio laskar. Periode tahun 1950 hingga 1952 amatir Indonesia
membentuk PARI (Persatuan Amatir Radio Indonesia). Namun pada tahun 1952,
pemerintah yang mulai reprensif mengeluarkan ketentuan bahwa pemancar radio
amatir dilarang mengudara kecuali pemancar radio milik pemerintah dan bagi
stasiun yang melanggar dikenakan sanksi subverdif. Kegiatan amatir radio
terpaksa dibekukan pada kurun waktu antara tahun 1952-1965. Pembekuan tersebut
diperkuat dengan UU No. 5 tahun 1964 yang mengenakan sanksi terhadap mereka
yang memiliki radio pemancar tanpa seijin pihak yang berwenang. Namun ditahun
1966, seiring dengan runtuhnya Orde Lama, antusias amatir radio untuk mulai
mengudara kembali tidak dapat dibendung lagi.
Tahun 1966 mengudara radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan
persatuan-persatuan aksi dalam perjuangan Orde Baru. Muncul pula berbagai
stasiun radio laskar Ampera dan stasiun radio lainnya yang melakukan kegiatan
penyiaran. Stasiun-stasiun radio tersebut menamakan dirinya sebagai radio
amatir. Peda periode tahun 1966-1967,diberbagai daerah terbentuklah
organisasi-organisasi amatir radio. Pada 9 Juli 1968, berdirilah Organisasi
Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI).
Radio Republik Indonesia (RRI)
Rapat yang dihadiri para tokoh yang sebelumnya aktifmengoperasikan
beberapa stasiun radio Jepang sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI)
pada tanggal 11 September 1945 di enam kota. Rapat juga sepakat memilih Dokter
Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. Selain itu, rapat
juga menghasilkan siatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan piagam 11
September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi Rri tang kemudian
dikenal dengan Tri Prasetya RRI yang antara lain merefleksikan komitmen RRI
untuk bersikap netral untuk tidak memihak kepada salah satu aliran, keyakinan,
partai, atau golongan.
Dewasa ini, stasiun RRI mempunyai 52 stasiun penyiaran dan stasiun
penyiaran khusus yang ditujukan keluar negeri dalam 10 bahasa. Kecuali di
Jakarta, RRI di daerah hampir selulurhnya menyelenggarakan siaran dalam 3
program yaitu Program Daerah yang menlayani segmen masyarakat yang luas sampai
pedesaan. Program Kota (Pro II) yang melayani masyarakat di perkotaan dan
Program III (Pro III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) kepada
masyarakat luas.
Televisi
Siaran televisi di indonesia dimulai pada tahun 1962 saat TVRI
menayangkan secara langsung upacara hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia
ke-17 pada 17 Agustus 1962. Siaran itu masih terhitung siaran percobaab. Siaran
resmi TVRI baru dimulai 24 Agustus 1962 jam 14.30 WIB yang menyiarkan secara
langsung upacara pembukaan Asean Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno.
Sejak itu pula Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI
dipergunakan sebagai panggilan stasiun (stasiun call) hingga sekarang. Selama
tahun 1962-1963 TVRI berada diudara rata-rata satu jam sehari dengan segala
kesederhanaannya.
Sejalan dengan kepentingan pemerintah dan keinginan rakyat
Indonesia yang tersebar diberbagai wilayah agar dapat menerima siaran televisi,
maka pada tanggal 16 Agustus 1976 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan
saatelit Palapa untuk telekomunikasi dan siaran televisi. Dalam
perkembangannya, satelit Palapa A sebagai generasi pertama diganti dengan
Palapa A2, selanjutnya Palapa B. Palapa B2, B2P, B2R dan Palapa B4 diluncurkan
tahun 1922.
TVRI yang berada di bawah Departemen Penerangan pada saat itu, kini
siarannya sudah dapat menjangkau semua rakyat Indonesia yang berjumlah sekitar
210 juta jiwa. Sejak tahun 1989 TVRI mendapatkan saingan siaran televisi
lainnya, yakni Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) yang bersifat
komersial. Secara berturut-turut berdiri stasiun televisi, Surya Citra Televisi
(SCTV), Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,
TV7, Lativi, Metro TV, JakTV, Bali TV, dan lain-lain.
Setelah Undang-undang Penyiaran disahkan pada tahun 2002, jumlah
televisi baru di Indonesia diperkirakan akan terus bermunculan, khususnya di
daerah, yang terbagi kedalam empat kategori yaitu televisi publik, swasta,
berlangganan dan komunitas. Hingga Juli 2002, jumlah orang yang memiliki
pesawat televisi di Indonesia mencapai 25 juta. Kini penonton televisi
Indonesia benar-benar memiliki banyak pilihan untuk menikmati berbagai program
televisi.
Televisi merupakan medium favorit bagi para pemasang iklan di
Indonesia. Media televisi merupakan industri yang padat modal, padat teknologi,
dan padat sumber daya manusia. Namun sayangnya kemunculan berbagai stasiun
televisi di Indonesia tidak diimbangkan dengan tersedianya sumber daya manusia
yang memadai. Pada umumnya televisi dibangun tanpa pengetahuan pertelevisian
yang memadai dan hanya berdasarkan semangat dan modal yang besar saja.
Satu hal yang perlu diingat, meskipun 11 stasiun televisi sudah
beroperasi, tetapi televisi siaran tidak akan pernah menggeser kedudukan radio
siaran, karena radio siaran memiliki karakteristik tersendiri. Televisi siaran
dan Radio siaran, juga media lainnya berperan saling mengisi. Televisi siaran
hanya menggeser radio siaran dalam porsi iklan.
Nama : Miqdad Niazi
NIM : 1740210045
Kelas : KPI B
Mata Kuliah : Teknik Menulis Feature dan Berita
Dosen Pengampu : Primi
Rohimi, S.Sos., M.S.I.
Komentar
Posting Komentar